Smoke Test Cleanroom: Uji Visualisasi Asap Aliran Searah Aneks 1

Table of Contents

Angka di sertifikat kualifikasi bisa terlihat sempurna. Kecepatan udara masuk rentang, jumlah partikel di bawah batas, beda tekanan stabil. Lalu seorang inspektur meminta satu hal yang tidak bisa dijawab oleh tabel: tunjukkan ke saya rekaman asapnya saat operator mengambil vial yang jatuh. Di titik itulah banyak fasilitas steril di Indonesia tersandung.

Smoke test atau uji visualisasi asap adalah satu-satunya pengujian yang membuat aliran udara bisa dilihat dengan mata. Pengukuran kecepatan memberi satu angka di satu titik; visualisasi memperlihatkan ke mana udara benar-benar pergi ketika ada mesin, meja, troli, dan manusia di dalamnya. Artikel ini membahas dasar aturannya, jenis studinya, titik mana saja yang perlu diuji, dan kesalahan yang berulang kali dikutip dalam temuan inspeksi.

Apa Itu Uji Visualisasi Asap (Smoke Test)?

Uji visualisasi asap adalah teknik membuat pola udara ruangan terlihat untuk dianalisis, biasanya dengan fog generator atau smoke wand yang melepaskan media penjejak ke dalam aliran udara. Media yang dipakai di industri bermacam-macam: fog berbasis air, aerosol berbahan glikol atau gliserin, sampai fog kriogenik yang dihasilkan dari nitrogen cair. Syarat utamanya media itu tidak beracun dan tidak mencemari produk.

Tujuannya bukan sekadar menghasilkan video yang tampak meyakinkan. Studi yang benar menjawab pertanyaan spesifik: apakah udara di zona kritis benar-benar searah dari filter ke titik kerja, apakah ada pusaran atau zona mati, dan apakah first air sampai ke titik produk terbuka dalam keadaan statis maupun ketika proses berjalan. Pada fasilitas aseptik, kesimpulan studi ini juga dipakai untuk memilih lokasi titik sampling pemantauan lingkungan.

Satu hal yang sering dicampur aduk: angka kecepatan udara dan visualisasi adalah dua pengujian berbeda yang saling menjelaskan. ISO 14644-3 mengenal pengukuran kecepatan 0,45 m/s dengan toleransi ±20% pada bidang 150 sampai 300 mm di bawah permukaan keluaran filter. EU GMP Annex 1 edisi 2022 memakai rentang berbeda untuk posisi kerja, dan teksnya meminta hasil studi visualisasi berkorelasi dengan hasil pengukuran kecepatan. Kalau dua data itu bercerita hal yang berlawanan, salah satunya belum benar.

Dasar Aturan: Aneks 1 CPOB, EU GMP, dan ISO 14644-3

Untuk industri farmasi Indonesia, acuan yang berlaku adalah Standar CPOB dalam Peraturan BPOM Nomor 7 Tahun 2024, yang kemudian diubah oleh Peraturan BPOM Nomor 7 Tahun 2025. Perubahan 2025 itu memang berfokus pada revisi Aneks 1 Pembuatan Produk Steril, dan menurut materi sosialisasi BPOM, naskah revisinya mengacu pada PIC/S GMP Annex 1 (2023) serta WHO TRS 1044 Annex 2. Jangan lagi memakai istilah “CPOB 2018” atau Peraturan BPOM 34/2018 sebagai dasar, karena rezim itu sudah diganti.

Substansi yang relevan untuk pembahasan ini, mengikuti teks Aneks 1 hasil revisi: bila aliran udara searah diperlukan, studi visualisasi dilakukan untuk menentukan kepatuhannya; studi harus mencakup kondisi non-operasional dan kondisi operasional, termasuk simulasi intervensi operator; rekaman videonya disimpan; dan hasilnya didokumentasikan serta dipertimbangkan dalam program pemantauan lingkungan. Untuk RABS, lingkungan latar belakang pengolahan aseptik minimal kelas B, dan studi pola aliran udara harus menunjukkan tidak ada udara yang masuk selama intervensi, termasuk ketika pintu dibuka.

Tenggat penyesuaiannya sudah jalan. Peraturan BPOM 7/2025 diundangkan 20 Maret 2025 dengan kewajiban menyesuaikan kegiatan pembuatan produk steril paling lambat dua belas bulan sejak diundangkan, yang berarti sudah lewat pada Maret 2026. Masa dua puluh empat bulan diberikan untuk proses liofilisasi tertentu, jatuh sekitar Maret 2027. Pemetaan tenggat per area fasilitas kami bahas terpisah di roadmap kepatuhan CPOB produk steril dan gap analysis fasilitas.

Dari sisi EU GMP, dokumen Annex 1 edisi 2022 yang diterbitkan Komisi Eropa (C(2022) 5938) meminta pola aliran udara divisualisasikan untuk menunjukkan kontaminasi tidak dapat masuk dari area berkelas lebih rendah, dan meminta aliran searah dibuktikan serta dikualifikasi di seluruh area Grade A, bukan hanya di satu titik. Butir 4.30 teks itu mencantumkan rentang kecepatan acuan 0,36 sampai 0,54 m/s pada posisi kerja untuk sistem aliran searah, kecuali ada justifikasi ilmiah lain di dalam Contamination Control Strategy. Karena statusnya nilai acuan, pembahasan industri mencatat kecepatan lebih rendah pun bisa dipertahankan asal didukung studi visualisasi dan justifikasi CCS yang kuat. Studi untuk Grade B difokuskan pada titik masuk seperti mousehole, sementara ruang Grade C dan D tidak dituntut studi semacam ini.

ISO 14644-3 edisi 2019 melengkapi dari sisi metode. Lampiran pengujiannya bersifat informatif, bukan normatif, dan uji arah aliran udara beserta visualisasinya berpindah penomoran dari B.7 pada edisi 2005 menjadi B.3 pada edisi 2019. Soal frekuensi, sumber penyedia jasa pengujian tidak seragam: ada yang menyebut verifikasi visual setiap dua puluh empat bulan untuk semua kelas ISO, ada yang menyebut saat komisioning lalu setiap empat tahun dan setelah perubahan signifikan. Perbedaan ini sendiri jadi alasan kuat untuk mengunci interval di dokumen CCS dan program kualifikasi ulang Anda, bukan menyalin angka dari brosur vendor. Pembagian kelas kebersihan yang mendasari semuanya kami uraikan di panduan klasifikasi Grade A, B, C, D EU GMP versus ISO 14644.

Empat Jenis Studi dan Kapan Masing-masing Dipakai

Menyebut semuanya “smoke test” membuat perencanaan jadi kabur. Dalam praktik ada empat jenis dengan tujuan berbeda:

  • Engineering visualization. Dikerjakan pada tahap desain dan konstruksi untuk membuktikan sistem aliran udara bekerja sesuai rancangan sebelum ruang dioperasikan. Sering dipadukan dengan simulasi computational fluid dynamics supaya masalah ketemu di gambar, bukan di lantai.
  • Studi statis (at rest). Dilakukan tanpa personel di dalam, untuk menetapkan pola dasar dan memastikan tidak ada eddy atau zona stagnan saat ruang dalam keadaan tenang.
  • Studi dinamis in situ (in operation). Dijalankan sambil kegiatan normal berlangsung, dengan pergerakan operator dan peralatan yang nyata. Inilah bagian yang paling banyak mengungkap masalah dan paling sering dilewatkan.
  • Studi investigatif. Dipicu anomali, misalnya hasil pemantauan lingkungan yang menyimpang atau kejadian kontaminasi, untuk melacak akar penyebabnya di pola udara.

Studi statis tanpa studi dinamis tidak menjawab pertanyaan regulator. Keadaan at rest memastikan aliran di Grade A searah; keadaan in operation memastikan tidak ada intervensi aseptik yang merusak aliran itu.

Titik Uji yang Perlu Masuk Protokol

Protokol yang matang menguji antarmuka, bukan cuma ruang kosong. Daftar titik yang lazim dicakup:

  • Muka setiap modul filter HEPA, untuk memastikan keluaran seragam dan searah.
  • Zona kritis di atas produk terbuka, titik pengisian, dan jalur transfer vial atau ampul.
  • Pintu dalam keadaan tertutup (static door test) dan saat dibuka tutup (dynamic door test).
  • Grill udara balik, untuk memastikan udara terkontaminasi benar-benar terbawa keluar.
  • Pass box dan jalur transfer antar kelas kebersihan, membuktikan arah udara menjaga ruang yang lebih bersih.
  • Exhaust peralatan, serta inlet dan exhaust biosafety cabinet yang bisa mengganggu pola ruang.
  • Downflow booth dan unit laminar air flow yang melindungi operasi terbuka.

Kesalahan yang Berulang Dikutip Inspektur

Temuan FDA Form 483 pada fasilitas aseptik memberi gambaran jujur soal apa yang gagal. Yang paling sering muncul: tidak ada dokumentasi bahwa asap yang dipakai bersifat netral apung (neutrally buoyant) sehingga pola yang terlihat belum tentu mewakili aliran udara sebenarnya, dan asap yang terlalu berat atau terlalu ringan justru bisa menyembunyikan masalah. Temuan lain menyebut perusahaan tidak melakukan studi pada kondisi dinamis sama sekali, rekaman terlalu singkat, dan tidak ada keterangan aktivitas apa yang sedang dilakukan dalam video.

Satu temuan spesifik layak dicatat: intervensi seperti membereskan vial yang macet atau terjatuh tidak dimasukkan ke dalam studi. Padahal justru intervensi semacam itu yang membawa tangan operator paling dekat ke produk terbuka. Smoke study sudah lama dianggap bagian wajib area pengolahan aseptik, mengacu pada panduan FDA tahun 2004 tentang produk obat steril yang diproduksi secara aseptik, dan pejabat FDA menyatakan Annex 1 sejalan dengan panduan tersebut.

Pelajaran praktisnya sederhana. Kualifikasi media penjejak sebelum dipakai, rekam dari minimal dua sudut pandang seperti tampak samping dan tampak atas, beri narasi atau penanda waktu untuk setiap aktivitas, dan masukkan daftar intervensi terburuk ke dalam skenario, bukan hanya gerakan normal. Hasilnya kemudian disambungkan ke rencana media fill test untuk validasi proses aseptik, karena skenario intervensi di kedua pengujian itu seharusnya konsisten.

FAQ

Apakah ruang Grade C dan D perlu smoke test?

Berdasarkan pembahasan Annex 1 edisi 2022, studi visualisasi tidak dituntut untuk Grade C dan D. Fokusnya ada di Grade A secara menyeluruh, ditambah titik masuk di Grade B seperti mousehole. Meski begitu, banyak fasilitas tetap menjalankan visualisasi terbatas di Grade C sebagai alat investigasi ketika ada masalah pemantauan lingkungan, dan itu keputusan mutu yang wajar selama tidak diklaim sebagai pemenuhan kewajiban.

Berapa sering smoke test harus diulang?

Tidak ada satu angka yang bisa dipakai buta. Pemicu yang jelas adalah kualifikasi awal, perubahan signifikan pada ruang atau sistem HVAC, penambahan atau pemindahan mesin, perubahan alur kerja, dan investigasi penyimpangan. Untuk interval rutin, sumber penyedia jasa menyebut angka berbeda-beda, dari dua tahun sampai empat tahun, sehingga intervalnya perlu ditetapkan sendiri di dalam Contamination Control Strategy dan jadwal kualifikasi ulang, dengan alasan berbasis risiko yang tertulis.

Apakah hasil pengukuran kecepatan udara bisa menggantikan studi visualisasi?

Tidak. Keduanya mengukur hal berbeda dan justru dipakai untuk saling memeriksa. Angka kecepatan di dalam rentang acuan tidak membuktikan tidak ada pusaran di balik lengan operator atau di belakang bodi mesin. Sebaliknya, video yang terlihat mulus tanpa data kecepatan tidak bisa dibandingkan antarperiode. Teks Annex 1 sendiri meminta hasil visualisasi berkorelasi dengan pengukuran kecepatan.

Media asap apa yang aman untuk ruang produksi?

Media harus tidak beracun dan tidak mencemari, serta terbukti netral apung agar pola yang terlihat mewakili aliran udara. Pilihan yang dipakai industri mencakup fog berbasis air, aerosol glikol atau gliserin, dan fog kriogenik dari nitrogen cair. Pertimbangkan juga sisa residu pada permukaan produk dan kebutuhan pembersihan setelah pengujian, terutama bila studi dijalankan di ruang yang sedang dalam status siap produksi.

Menutup Celah Sebelum Inspeksi Berikutnya

Smoke test yang baik bukan dokumen formalitas, melainkan alat diagnosis yang memperlihatkan apakah desain cleanroom Anda benar-benar bekerja ketika orang mulai bergerak di dalamnya. Tiga hal yang paling menentukan hasilnya: media penjejak yang terkualifikasi, skenario intervensi yang jujur mewakili praktik terburuk, dan dokumentasi yang bisa dibaca orang lain setahun kemudian.

Jika fasilitas Anda sedang menyiapkan kualifikasi ulang, menata ulang zona Grade A, atau membereskan temuan audit soal pola aliran udara, tim kami bisa membantu dari sisi desain HVAC dan konstruksi cleanroom sampai pengujian. Hubungi Sunrise Purification untuk mendiskusikan kondisi ruang dan tenggat kepatuhan Anda.

Rujukan yang disebut dalam artikel: Peraturan BPOM Nomor 7 Tahun 2024 tentang Standar CPOB beserta perubahannya Peraturan BPOM Nomor 7 Tahun 2025 (revisi Aneks 1 Pembuatan Produk Steril) dan materi sosialisasi BPOM; EU GMP Annex 1 edisi 2022, dokumen Komisi Eropa C(2022) 5938; ISO 14644-3:2019; panduan FDA tahun 2004 tentang produk obat steril yang diproduksi secara aseptik beserta temuan Form 483 terkait studi asap; PIC/S GMP Annex 1 (2023) dan WHO TRS 1044 Annex 2 sebagai acuan revisi Aneks 1.