Terapi sel dan gen — dikenal secara internasional sebagai Advanced Therapy Medicinal Products (ATMP) — sedang bergerak dari tahap riset menuju layanan klinis nyata di Indonesia. Rumah sakit rujukan dan lembaga riset biomedik mulai menjajaki terapi sel punca, sel dendritik, CAR-T, hingga vektor virus untuk terapi gen. UU No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan untuk pertama kalinya secara eksplisit membuka ruang regulasi bagi pelayanan berbasis genom dan sel punca, dan Permenkes No. 32 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Sel Punca dan Sel Dendritik sudah lebih dulu meletakkan dasar teknisnya.
Masalahnya, ATMP bukan produk farmasi biasa. Bahan bakunya berasal dari sel hidup atau vektor virus yang tidak bisa disterilisasi akhir seperti obat konvensional — seluruh proses produksi harus aseptik dari awal sampai akhir. Ini menuntut fasilitas cleanroom dengan tingkat kendali kontaminasi yang jauh lebih ketat dibanding cleanroom farmasi pada umumnya, sekaligus harus menjawab risiko biosafety karena sering melibatkan bahan biologis berisiko (virus, sel manusia/hewan) yang menuntut segregasi searah dan sistem HVAC khusus.
Apa Itu ATMP dan Mengapa Butuh Cleanroom Berbeda
ATMP mencakup tiga kategori utama: produk terapi sel somatik (mis. sel dendritik untuk imunoterapi kanker), produk rekayasa jaringan (tissue-engineered), dan produk terapi gen (termasuk vektor virus seperti AAV atau lentivirus untuk mengantar materi genetik ke sel target). Ketiganya punya satu kesamaan yang mengubah cara fasilitas harus dirancang: produk akhir adalah materi hidup yang tidak boleh melewati sterilisasi terminal, sehingga setiap tahap proses — dari isolasi sel, kultur, transduksi vektor, hingga pengisian ke kantong infus — harus berlangsung di lingkungan aseptik.
Konsekuensinya, fasilitas ATMP tidak cukup mengacu ke standar cleanroom farmasi konvensional. Ada dua lapisan persyaratan yang harus dipenuhi sekaligus: kendali partikel/mikroba setara produksi steril (mengacu EU GMP Annex 1 dan klasifikasi ISO 14644), ditambah kendali biosafety untuk mencegah kontaminasi silang antar-pasien dan paparan operator terhadap bahan biologis aktif — dua kebutuhan yang kalau tidak direncanakan bersamaan dari awal desain, sering saling bertabrakan di lapangan (misalnya arah aliran udara untuk sterilitas produk versus arah aliran udara untuk containment biosafety yang justru berlawanan).
Standar Cleanroom: Grade A-D dan Adaptasinya untuk ATMP
Kerangka klasifikasi yang paling relevan tetap grade A/B/C/D ala EU GMP Annex 1 (revisi 2022), dipadukan dengan batas partikel ISO 14644-1. Untuk produksi ATMP, pola umum yang dipakai di fasilitas modern adalah:
- Grade A dengan latar belakang Grade B — untuk prosedur terbuka berisiko tinggi: pengisian produk sel ke wadah akhir, manipulasi terbuka sel/vektor sebelum ditutup dalam sistem tertutup.
- Grade C — untuk tahap persiapan larutan, media kultur, dan proses yang sudah berada dalam sistem tertutup (closed system) atau isolator.
- Grade D — untuk penanganan komponen, gowning tahap awal, dan area pendukung non-kritis.
Annex 1 versi 2022 secara eksplisit mendorong penggunaan closed system processing dan isolator/RABS untuk ATMP justru karena kompleksitas menjaga sterilitas manual di lingkungan terbuka begitu tinggi. Ketika sistem tertutup benar-benar tervalidasi, latar belakang ruangan bisa diturunkan satu grade dari yang seharusnya dibutuhkan untuk proses terbuka setara — tapi validasi closed system ini sendiri butuh dokumentasi ekstensif (integrity test, leak test, validasi konektor steril) yang jarang dipahami penuh oleh kontraktor cleanroom yang terbiasa hanya dengan proyek farmasi konvensional.
Aspek lain yang sering terlewat: biosafety cabinet Class II jadi elemen wajib untuk manipulasi vektor virus dan kultur sel primer, bukan sekadar laminar air flow biasa — BSC melindungi produk sekaligus operator dan lingkungan sekaligus, sesuatu yang tidak dibutuhkan pada cleanroom produksi obat non-biologis.
Tantangan Nyata Membangun Fasilitas ATMP di Indonesia
Dari sisi konstruksi dan validasi, ada beberapa titik yang berulang kali jadi sumber kegagalan kualifikasi fasilitas ATMP di lapangan:
1. Segregasi multi-produk dan multi-pasien. Terapi sel autologus (sel diambil dari pasien sendiri, diproses, dikembalikan ke pasien yang sama) menuntut segregasi ketat antar-batch untuk mencegah tertukar atau terkontaminasi silang antar-pasien — bukan sekadar antar-produk seperti di manufaktur obat massal. Desain suite produksi idealnya dedicated per kampanye/pasien dengan jalur masuk-keluar personil dan material yang tidak saling berpotongan.
2. Sistem HVAC dengan dua kebutuhan yang berlawanan arah. Sterilitas produk butuh tekanan positif terhadap koridor (mencegah partikel masuk ke area kritis). Containment biosafety untuk vektor virus tertentu justru butuh tekanan negatif atau setidaknya cascade pressure yang mengarahkan udara keluar dari area kerja. Solusinya adalah desain bubble atau sink room yang dikombinasikan dengan filtrasi HEPA pada exhaust — bukan sekadar menaikkan grade cleanroom seperti pendekatan farmasi konvensional.
3. Material dinding dan sambungan yang benar-benar mendukung validasi mikrobiologi. Sambungan bocor, sudut mati (dead corner) yang sulit dibersihkan, atau material berpori pada dinding cleanroom sering jadi penyebab kegagalan uji lingkungan (environmental monitoring) berulang pada fasilitas ATMP karena bioburden yang dipantau jauh lebih ketat dibanding cleanroom farmasi biasa — lihat juga catatan kami soal validasi dan kualifikasi cleanroom untuk tahapan DQ/IQ/OQ/PQ yang relevan di sini.
4. Rantai perizinan yang melibatkan dua jalur berbeda. Fasilitas ATMP di rumah sakit biasanya perlu mengurus izin operasional pelayanan sel punca/sel dendritik dari Kemenkes sekaligus — bila produknya akan diregistrasi sebagai produk biologi — jalur pengawasan BPOM. Ini di luar izin lingkungan dan izin usaha standar pendirian fasilitas kesehatan/industri yang sudah harus lebih dulu diselesaikan (baca juga panduan kami soal jenis izin yang dibutuhkan untuk mendirikan fasilitas produksi di Indonesia). Menyatukan timeline konstruksi cleanroom dengan timeline kedua jalur perizinan ini sejak tahap perencanaan akan menghindari fasilitas yang sudah jadi secara fisik tapi belum bisa beroperasi karena izin belum lengkap.
Checklist Kesiapan Sebelum Memulai Konstruksi Fasilitas ATMP
- Peta alur proses lengkap (isolasi sel → kultur → transduksi/manipulasi → pengisian → penyimpanan) untuk menentukan grade cleanroom per tahap, bukan menyamaratakan seluruh fasilitas ke satu grade tertinggi yang justru memboroskan biaya operasional.
- Kajian biosafety level (BSL) untuk setiap vektor/agen biologis yang dipakai, dan bagaimana itu memengaruhi arah tekanan udara di setiap ruang.
- Rencana segregasi multi-pasien untuk terapi autologus, termasuk jalur personil dan material yang tidak saling bersilangan.
- Spesifikasi material dinding, lantai, dan langit-langit yang mendukung pembersihan validatif — sambungan minim, tanpa sudut mati, tahan bahan disinfektan yang dipakai.
- Rencana kualifikasi (DQ/IQ/OQ/PQ) dan program environmental monitoring yang disusun bersamaan dengan desain, bukan setelah konstruksi selesai.
- Pemetaan dua jalur perizinan (Kemenkes untuk operasional pelayanan, BPOM untuk registrasi produk bila relevan) sejak tahap perencanaan anggaran dan waktu.
Membangun cleanroom ATMP bukan pekerjaan “cleanroom farmasi plus sedikit penyesuaian” — kombinasi tuntutan sterilitas tingkat tinggi dan containment biosafety butuh kontraktor yang memahami keduanya sejak tahap desain, bukan hanya mengikuti spesifikasi generik grade A-D. Kesalahan yang muncul belakangan — sambungan dinding bocor, arah tekanan udara yang saling bertentangan, atau segregasi pasien yang tidak memadai — jauh lebih mahal diperbaiki setelah fasilitas berdiri dibanding dicegah sejak perencanaan.
Sunrise Purification membantu rumah sakit dan fasilitas riset biomedik merancang serta membangun cleanroom yang memenuhi tuntutan ganda ini, dari kajian alur proses, desain HVAC, pemilihan material dinding, hingga pendampingan dokumentasi kualifikasi. Hubungi tim kami untuk konsultasi kebutuhan fasilitas ATMP Anda.

