PROGNAS Akreditasi RS 2026: Enam Program, Elemen Penilaian dan Kesiapan Ruang

Table of Contents

Dari seluruh bab dalam Standar Akreditasi Rumah Sakit (STARKES), ada satu bab yang tidak memberi ruang untuk nilai pas-pasan: Program Nasional (PROGNAS). Bab lain masih bisa lolos dengan capaian minimal tertentu, tetapi PROGNAS harus bernilai 100% agar rumah sakit dinyatakan terakreditasi. Satu elemen penilaian yang tidak terpenuhi di bab ini cukup untuk menahan status akreditasi, meski bab-bab lainnya rapi.

Yang sering terlewat saat persiapan: sebagian elemen PROGNAS bukan soal dokumen, melainkan soal ruang. Surveyor menanyakan SK dan pedoman, lalu berjalan ke lapangan dan melihat apakah ruangnya memang ada, memang terpisah, dan memang berfungsi seperti yang tertulis. Artikel ini merinci isi enam program PROGNAS, strukturnya dalam STARKES, dan — bagian yang biasanya paling mahal untuk diperbaiki mendadak — kesiapan fisik ruang yang dituntut masing-masing program.

Dasar aturan dan struktur PROGNAS dalam STARKES

Standar akreditasi yang berlaku saat ini ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/1596/2024 tentang Standar Akreditasi Rumah Sakit, yang menggantikan KMK 1128/2022. PROGNAS berada di kelompok standar tersendiri dengan komposisi:

  • 1 bab
  • 12 standar, sebagian bercabang menjadi sub-standar (misalnya Prognas 6 dan Prognas 6.1)
  • 46 elemen penilaian (EP)
  • Enam program yang semuanya merupakan prioritas nasional

Angka 46 EP terlihat kecil dibanding bab seperti PPI atau TKRS. Justru di situ masalahnya: karena syaratnya 100%, setiap EP punya bobot efektif yang jauh lebih besar daripada EP di bab lain. Tidak ada EP yang bisa “dikorbankan”.

Enam program PROGNAS dan ruang yang dituntut masing-masing

Prognas 1 — Peningkatan Kesehatan Ibu dan Bayi (PONEK)

Rumah sakit wajib menyelenggarakan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) 24 jam, termasuk rawat gabung ibu–bayi, dukungan ASI eksklusif, dan Perawatan Metode Kanguru (PMK) untuk bayi berat lahir rendah. Prognas 1.2 secara khusus menyoroti pelaksanaan rawat gabung.

Implikasi ruang yang paling sering jadi temuan:

  • Ruang rawat gabung dengan luas yang memungkinkan bayi ditempatkan di sisi ibu, bukan dipindah ke ruang bayi terpisah.
  • Ruang laktasi tersendiri — privat, berkunci, ada wastafel dan titik listrik untuk pompa ASI. Sudut ruangan yang disekat kain tidak akan lolos.
  • Kamar bersalin, ruang tindakan, dan NICU dengan kendali suhu, kelembapan, dan arah aliran udara yang sesuai. Bayi prematur sangat sensitif terhadap suhu ruang; NICU memerlukan filtrasi dan tekanan positif relatif terhadap koridor. Rinciannya kami bahas tersendiri di standar ruang bersalin (VK) dan NICU.
  • Kedekatan akses antara IGD, kamar bersalin, dan kamar operasi. PONEK dinilai dari waktu respons seksio darurat, dan waktu respons adalah fungsi dari jarak tempuh fisik.

Prognas 2 — Penurunan Angka Kesakitan Tuberkulosis

Program TB mencakup promosi kesehatan, surveilans, pengendalian faktor risiko, penemuan dan penanganan kasus, pemberian kekebalan, serta pemberian obat. Rumah sakit juga wajib menyediakan sarana dan prasarana pelayanan TB sesuai peraturan.

Ini program dengan konsekuensi teknis paling berat, karena TB menular lewat udara:

  • Klinik TB-DOTS tersendiri sebagai pusat layanan TB di rumah sakit — diagnosis, pengobatan, pencatatan dan pelaporan, sekaligus simpul jejaring DOTS internal dan eksternal. Alur pasien TB harus terpisah dari pasien poliklinik umum, termasuk ruang tunggunya.
  • Ruang rawat terpisah dengan ventilasi baik untuk pasien TB; bila pemisahan kohort tidak memungkinkan, satu pasien satu kamar.
  • Ruang isolasi airborne bertekanan negatif untuk kasus TB resistan obat (TB RO) dan suspek menular, lengkap dengan anteroom, exhaust terbuang ke luar lewat jalur yang tidak kembali ke intake, dan indikator tekanan yang bisa dibaca petugas di depan pintu. Angka pertukaran udara dan konfigurasi anteroom-nya kami uraikan di panduan ruang isolasi tekanan negatif, sementara dasar perhitungan laju udaranya ada di penjelasan ACH (air change per hour).
  • Ruang pengambilan sputum di area terbuka atau berventilasi kuat dengan exhaust langsung, bukan di dalam toilet tertutup.
  • Laboratorium TB dengan tingkat biosafety yang sesuai jenis pemeriksaan. Pemeriksaan molekuler cepat punya kebutuhan berbeda dari kultur; untuk kultur dan uji kepekaan, lihat persyaratan laboratorium BSL-3.

Prognas 3 — Penurunan Angka Kesakitan HIV/AIDS

Rumah sakit menjalankan program penanggulangan HIV/AIDS termasuk layanan konseling dan tes, pengobatan ARV, pencegahan penularan dari ibu ke anak (PPIA), serta layanan infeksi oportunistik.

Kebutuhan ruangnya lebih ringan secara mekanikal tetapi ketat soal kerahasiaan: ruang konseling (VCT) yang tertutup dan kedap suara secukupnya, sehingga percakapan tidak terdengar dari luar; alur pasien yang tidak membuat status pasien bisa ditebak dari posisi ruang tunggu; serta penyimpanan ARV dan rekam medis dengan akses terbatas. Perlu dicatat bahwa pasien HIV dengan koinfeksi TB mengembalikan semua persyaratan isolasi airborne di Prognas 2.

Prognas 4 — Penurunan Prevalensi Stunting dan Wasting

Rumah sakit berperan sebagai rujukan tata laksana gizi buruk dan pendampingan intervensi spesifik. Yang dilihat di lapangan: ruang pelayanan gizi dan konseling, ketersediaan alat antropometri terkalibrasi, serta dapur gizi atau unit produksi makanan yang memenuhi higiene — alur satu arah dari bahan mentah ke matang, pemisahan area kotor dan bersih, serta exhaust yang memadai di area pengolahan panas. Untuk rumah sakit yang menyiapkan formula terapeutik, kebersihan area penyiapan dinilai setara area pengolahan sediaan.

Prognas 5 — Pelayanan Keluarga Berencana Rumah Sakit (PKBRS)

Mencakup pelayanan KB pascapersalinan dan pascakeguguran, konseling, serta pencatatan. Kebutuhan ruang: ruang pelayanan KB dengan ruang tindakan untuk pemasangan IUD/implan dan tubektomi minor, privasi visual yang memadai, serta pencahayaan dan alat steril yang siap pakai. Tindakan tubektomi atau vasektomi mengikuti persyaratan kamar tindakan/kamar operasi, termasuk parameter suhu dan kelembapan ruang operasi.

Prognas 6 — Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA)

Standar Prognas 6 mewajibkan rumah sakit menjalankan program PPRA sesuai peraturan, dan Prognas 6.1 menuntut penerapan penggunaan antimikroba secara bijak berdasarkan prinsip antimicrobial stewardship (PGA — Penggunaan Antibiotik yang Bijak). Bobot elemen di standar ini tinggi, dan capaian yang lemah di sini termasuk pemicu rekomendasi mayor dari surveyor.

PPRA tidak bisa jalan tanpa data mikrobiologi, dan data mikrobiologi butuh laboratorium: laboratorium mikrobiologi klinik yang mampu melakukan kultur dan uji kepekaan antibiotik, dengan biosafety cabinet, zonasi area kerja, dan pembuangan limbah yang benar. Rumah sakit yang mengirim sampel ke laboratorium rujukan tetap harus membuktikan pola kepekaan kumannya terdokumentasi dan dipakai menyusun panduan terapi empiris.

Cara membaca kesiapan PROGNAS sebelum survei

Pengalaman yang berulang di banyak rumah sakit: tim akreditasi mengejar dokumen sampai tuntas, lalu tersandung di telusur lapangan karena ruangnya tidak mendukung klaim dokumen. Beberapa pemeriksaan yang layak dilakukan jauh sebelum jadwal survei turun:

  1. Cocokkan pedoman dengan denah. Setiap ruang yang disebut dalam pedoman PONEK, pedoman TB-DOTS, dan pedoman PKBRS harus bisa ditunjuk di denah aktual, bukan di denah rencana.
  2. Ukur, jangan asumsikan. Tekanan diferensial ruang isolasi, laju udara di ruang pengambilan sputum, dan suhu–kelembapan NICU perlu angka hasil pengukuran terbaru, bukan spesifikasi saat serah terima proyek bertahun lalu.
  3. Telusuri alur pasien dengan berjalan kaki. Ikuti rute pasien TB dari pintu masuk sampai klinik DOTS. Bila rutenya memotong ruang tunggu poliklinik anak atau kebidanan, itu temuan — dan perbaikannya bersifat arsitektural.
  4. Periksa utilitas pendukungnya. Ruang isolasi yang exhaust-nya mati saat genset mengambil beban bukan ruang isolasi. Kesiapan utilitas dinilai juga di bab lain; kaitannya kami bahas di standar MFK dan utilitas HVAC rumah sakit.
  5. Selaraskan dengan rencana kelas rawat inap. Perubahan tata ruang rawat inap sering berjalan paralel dengan pemenuhan kriteria KRIS. Mengerjakan keduanya dalam satu paket renovasi jauh lebih murah daripada dua kali bongkar.

Yang paling sering terlambat disiapkan

Dari daftar di atas, tiga hal konsisten menjadi pekerjaan terakhir dan termahal: ruang isolasi bertekanan negatif untuk TB, pemisahan alur klinik DOTS, dan kapasitas laboratorium mikrobiologi untuk menopang PPRA. Ketiganya tidak bisa diselesaikan dengan rapat atau revisi SK. Semuanya butuh pekerjaan fisik — dinding, pintu, ducting, filter, panel kontrol — dengan waktu pengadaan dan pemasangan yang nyata.

Karena PROGNAS wajib 100%, menunda tiga hal itu sampai tiga bulan sebelum survei adalah risiko yang tidak sepadan. Lebih aman memperlakukannya sebagai proyek infrastruktur dengan jadwal sendiri, terpisah dari sprint dokumen akreditasi.

Sunrise Purification mengerjakan ruang isolasi tekanan negatif, ruang bersalin dan NICU, klinik TB-DOTS, serta laboratorium mikrobiologi dan cleanroom rumah sakit — mulai dari perhitungan beban dan tata udara sampai panel dinding, pintu, dan commissioning dengan laporan pengukuran yang bisa dilampirkan ke berkas akreditasi. Bila Anda sedang memetakan kesenjangan PROGNAS di rumah sakit Anda, kirimkan denah dan daftar temuan survei terakhir; kami bantu susun prioritas pekerjaannya.